Tuesday, October 10, 2006


Birdwatching Yuuuk.... (bagian 1)


Ngapain sih birdwatching....? buat apa sih birdwatching.....? itu pertanyaan yang paling sering diajukan orang kepada saya kalau saya bercerita mengenai birdwatching a.k.a mengamati burung. Yang jelas buat saya pribadi ada kepuasaan tersendiri kalau bisa menjumpai spesies burung yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

Bagi banyak orang Indonesia, mengamati burung memang hoby yang kurang populer. Tapi di beberapa negara maju seperti Amerika atau negara-negara di Eropa, mengamati burung merupakan kegiatan outdoor yang cukup populer. Maklumlah hoby ini bisa dilakukan dimana saja dan modalnya cukup sederhana yaitu sebuah teropong medan alias binokuler dan buku sakti yaitu panduan lapang pengenalan burung suatu daerah. Di Indonesia sendiri setidaknya sudah terdapat 3 buku panduan pengenalan burung yang cukup populer yaitu


  1. Buku Panduan Lapang Pengenalan Burung-burung di Sumatra, Jawa, Bali dan Kalimantan
  2. Buku Panduan Lapang Pengenalan Burung-burung di Kawasan Wallacea (Sulawesi, Lombok, Flores, Timor)
  3. Buku Panduan Lapang Pengenalan Burung-burung di Papua
  4. Burung-burung di Sulawesi oleh Derek Holmes dan karen phillips
  5. Burung-burung di Jawa dan Bali oleh Derek Holmes dan Stephen Nash
  6. Burung-burung di Sumatera dan kalimantan oleh Derek Holmes dan Stephen Nash

Buku no. 1 pada saat ini sudah tidak ada lagi sedangkan buku no 4-6 cukup banyak di Pasar Festival Kuningan, jakarta.

Memilih Binokuler

Mengamati burung tanpa membawa binokuler ibarat pepatah seperti pergi ke medan perang tanpa senjata. Untuk mengamati burung, peralatan ini memang menjadi wajib untuk dibawa ketika pergi mengamati burung. Lantas bagaimana memilih/membeli binokuler yang tepat? Ini barangkali pertanyaan yang cukup sulit dijawab. Beberapa teman saya merasa bahwa binokuler dengan perbesaran extra misal 12 kali merupakan pilihan yang tepat, tapi ada juga yang menganggap merk tertentu merupakan pilihan terbaik. Namun yang pasti ada satu faktor pembatas dalam memilih binokuler yang tepat yaitu kemampuan kocek kecuali anda memang berniat menjadi peminjam binokuler sejati!

Beberapa pedoman yang perlu dipertimbangkan ketika anda memilih atau membeli binokuler adalah:

Model prisma

Pada saat ini di pasaran beredar tiga tipe prisma binokuler yaitu porro prisma, roof prisma dan porro prisma terbalik.

Model porro prisma merupakan model teropong yang paling awal. Secara umum model ini memiliki ukuran yang relatif gemuk, jarak antar lensa obyektif lebih jauh dibandingkan dengan jarak antara lensa okuler. Kelemahan binokuler model porro prisma adalah bentuknya yang relatif besar dan tidak kedap air. Sedangkan kelebihannya adalah harganya yang relatif murah dan sudut pandang yang relatif lebar.

Model roof prisma memiliki ciri bentuknya yang langsing dimana lensa okuler dan obyektif dalam satu garis. Kelemahannya terletak pada harganya yang relatif mahal dan sudut pandang mata yang relatif sempit. Kelebihannya adalah ukurannya yang relatif ringan dan lebih kedap air.

Model porro prisma terbalik, memiliki bentuk yang kebalikan dari porro prisma, dimana jarak antar lensa oyektif lebih dekat dibandingkan dengan jarak antar lensa okuler. Biasanya binokuler kompak memiliki model prisma ini. Kelemahan binokuler model ini adalah transmisi cahaya yang kurang bagus karena memiliki lensa obyektif yang sangat kecil, tidak kedap air rawan terhadap benturan. Kelebihannya adalah bobotnya yang ringan dan ukurannya yang kecil. Harga relatif lebih murah.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home